
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar pada banyak profesi, termasuk pustakawan. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa para pustakawan tidak cukup lagi bertumpu pada pekerjaan teknis yang kini semakin mampu dikerjakan oleh mesin. Mereka justru perlu memperkuat kreativitas dan kemampuan yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Pekerjaan Teknis Bisa Digantikan Mesin
Aminudin mencontohkan sejumlah pekerjaan seperti katalogisasi, klasifikasi, pengolahan bahan pustaka, hingga pembuatan metadata yang kini dapat dilakukan dengan dukungan teknologi. Berdasarkan pengalaman pengolahan bahan pustaka di Perpusnas, ia membandingkan kapasitas kerja manusia dan mesin. Dalam waktu yang sama, manusia hanya mampu mengerjakan 25 bahan pustaka, sementara mesin bisa mencapai 1.000. Artinya, satu mesin berpotensi menggantikan pekerjaan teknis puluhan orang sekaligus.
Pustakawan Harus Melampaui Hal Teknis
Namun, kondisi tersebut bukan berarti menghilangkan peran pustakawan. Justru sebaliknya, Aminudin menilai perkembangan teknologi menjadi momentum bagi pustakawan untuk bergerak melampaui pekerjaan yang semata-mata bersifat teknis. Fokusnya kini beralih ke pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan khas manusia.
"Pustakawan punya otak. Pustakawan punya pemikiran kreatif yang mesin tidak miliki," ujarnya. Ia menambahkan bahwa algoritma bekerja berdasarkan data yang diberikan, sementara manusia punya kemampuan untuk berkembang secara kreatif.
Tiga Hal yang Tidak Dimiliki Mesin
Di tengah kemajuan AI, Aminudin menyoroti tiga dimensi yang tidak dimiliki mesin, yakni rasa, nilai, dan moral. Ketiga dimensi ini menjadi pembeda manusia ketika teknologi semakin mampu mengambil alih pekerjaan teknis, sekaligus menegaskan pentingnya peran pustakawan dalam memberikan layanan yang berorientasi pada manusia.
Arah Pengembangan Kompetensi
Karena itu, pengembangan kompetensi pustakawan tidak lagi cukup berfokus pada kemampuan teknis semata. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), uji kompetensi, serta pembinaan dan pengembangan kompetensi pustakawan perlu diarahkan untuk memperkuat kreativitas. Ketua Umum Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Joko Santoso menambahkan, mesin mungkin mampu menemukan triliunan data, tapi hanya manusia yang memiliki empati untuk mendengarkan kebutuhan pemustaka dan memahami apa yang mereka rasakan.
Transformasi ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus teknologi, sentuhan manusia tetap menjadi nilai yang tidak tergantikan. Pustakawan yang mampu menggabungkan kecakapan teknologi dengan kreativitas dan empati akan terus relevan dalam melayani masyarakat di era digital.
Sumber: Perpusnas RI
Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.