Tren baru di dunia kuliner bikin geleng-geleng kepala. Sejumlah restoran mulai mengganti jasa fotografer profesional dengan gambar buatan kecerdasan buatan (AI) untuk menu dan materi promosi. Sayangnya, alih-alih menggugah selera, hasilnya justru sering membuat pelanggan ilfeel.

Baca juga: Cara Membuat Presentasi Menarik dengan Bantuan AI: Panduan Praktis

Diperbarui 4 Oktober 2026. Penggunaan AI di konten visual terus berkembang — cek juga cara memakai AI membuat slide presentasi dan fakta konten deepfake naik 550 persen.

Baca juga: 7 Skill Digital yang Bikin CV Kamu Dilirik HRD di 2026

Baca juga: Panduan Prompt Engineering buat Pemula: Cara Berbicara dengan AI Agar Hasilnya Maksimal

Baca juga: Hoaks AI Makin Marak, Ini Cara Mengenali Konten Deepfake Sebelum Tertipu

Ketika AI Gagal Bikin Makanan Terlihat Enak

Rupanya, untuk urusan makanan, AI masih butuh waktu lama agar bisa menghasilkan visual yang benar-benar menggugah selera. Saus pada sandwich kerap terlihat meleleh dalam gumpalan aneh mirip animasi, sementara tekstur rotinya malah menyerupai spons cuci piring. Bukannya bikin lapar, gambar semacam ini justru bikin kehilangan selera.

Kontroversi di San Francisco

Kekecewaan pelanggan sempat memuncak di sebuah kedai kopi sekaligus toko roti di San Francisco. Pelanggan menyadari papan menu di depan toko menampilkan gambar hasil AI untuk minuman, sandwich pulled pork, croissant, hingga menu lainnya. Unggahan soal menu itu di Reddit banjir komentar pedas, salah satunya menyebut tampilannya lebih mirip "bubur makanan ternak" ketimbang sajian restoran.

Kekesalan itu bahkan sampai ke dunia nyata. Pada 2 Juni, pemilik toko mendapati kanopi mereka dicoret cat merah membentuk tulisan yang tampak seperti kata "seriously".

Iklan Palsu atau Hemat Biaya?

Para ahli terbelah. Brad A. Johnson, mantan kritikus restoran, cukup memahami alasan restoran independen beralih ke gambar AI karena jasa fotografer komersial memang mahal. Namun menurutnya, langkah ini rawan jadi bumerang karena pelanggan bisa kehilangan kepercayaan begitu melihat hidangan asli jauh berbeda dari fotonya.

Sementara itu, fotografer makanan Lindsay Kreighbaum menyebut praktik ini sebagai bentuk iklan palsu. Ia mempertanyakan bagaimana restoran bisa membangun kepercayaan lewat gambar yang bahkan tidak menampilkan produk asli mereka. Dari sisi visual, tampilan makanan AI juga masih terasa janggal, teksturnya seperti karet, dan sausnya seolah melawan hukum gravitasi.

Aspek Hukum dan Kepercayaan

Fotografer Andrea D'Agosto mengingatkan bahwa dunia fotografi makanan komersial sebenarnya tunduk pada aturan kejujuran dalam periklanan. Jaringan besar seperti Subway, misalnya, tidak bisa asal menambah irisan daging di foto promosi melebihi porsi sebenarnya. Bedanya, restoran lokal relatif aman dari pengawasan lembaga pengawas, tapi risikonya justru kehilangan kepercayaan pelanggan secara perlahan.

Pelajaran buat Pengguna Digital

Fenomena ini jadi pengingat bahwa AI, meski makin canggih, belum tentu cocok untuk semua kebutuhan — terutama yang menyangkut kepercayaan dan ekspektasi konsumen. Kejujuran dalam menampilkan produk tetap lebih berharga daripada visual yang menipu. Mengelola ekspektasi pelanggan jauh lebih penting ketimbang tampilan yang sekadar memukau di layar.

Uncanny Valley dan Gelombang Penolakan AI

Para ahli menyebut tampilan makanan AI yang janggal itu sebagai fenomena "uncanny valley" — kondisi ketika sesuatu terlihat hampir mirip aslinya, tapi justru terasa aneh dan tidak nyaman. Penulis kuliner Jenn Tanaka bahkan melihat penolakan terhadap gambar makanan AI ini sebagai bagian dari gelombang penolakan yang lebih luas terhadap penggunaan AI secara umum.

Pelajaran pentingnya: teknologi sebaiknya dipakai untuk memperkuat kejujuran dan kualitas, bukan menipu ekspektasi. Di era digital yang makin sulit membedakan mana yang asli dan buatan, transparansi justru menjadi nilai jual yang paling berharga bagi sebuah bisnis.

Jadi, sebelum terpukau oleh teknologi, ada baiknya kita selalu mengecek ulang apa yang sebenarnya kita lihat dan bagikan. Literasi digital bukan cuma soal bisa memakai perangkat, tapi juga soal bijak menyikapi setiap informasi yang datang.

Sumber: Detik Food

Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.