ChatGPT Tembus 1,2 Miliar Pengguna Mingguan, Apa Artinya buat Literasi Digital Kita?

Kecerdasan buatan kian melekat dalam kehidupan sehari-hari, dan angka terbaru dari OpenAI membuktikannya. Pada ajang DevDay 2026 akhir September lalu, OpenAI mengumumkan bahwa ChatGPT kini digunakan 1,2 miliar orang setiap minggunya. Lonjakan ini naik dari 900 juta pengguna mingguan yang dicatat pada Februari 2026, atau bertambah sekitar 1,4 juta pengguna per hari.

Perjalanan ChatGPT memang terbilang fenomenal. Sejak diluncurkan pada November 2022, layanan ini tumbuh dua belas kali lipat dalam kurun sekitar tiga tahun. Bahkan aplikasi selulernya mencatat sejarah sebagai aplikasi tercepat yang mencapai 1 miliar pengguna aktif bulanan pada Mei 2026, menurut data Sensor Tower.

Bukan Sekadar Chatbot Biasa

Dari sisi bisnis, ChatGPT juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Lebih dari 50 juta orang berlangganan paket konsumen, sementara pengguna bisnis berbayar tercatat lebih dari 9 juta. Kunjungan ke situs chatgpt.com mencapai 5,6 miliar dalam sebulan, dan lebih dari 2,5 miliar prompt dikirim pengguna setiap harinya.

Menariknya, penggunaan ChatGPT tidak lagi terbatas pada urusan pekerjaan. Riset menunjukkan porsi percakapan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan justru tumbuh paling cepat, dan lebih dari 230 juta orang mengajukan pertanyaan seputar kesehatan setiap minggunya. Ini menandakan AI telah menjadi teman sehari-hari bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Peluang dan Tantangan Literasi Digital

Popularitas sebesar ini membawa dua sisi. Di satu sisi, AI bisa menjadi alat bantu yang mempercepat belajar, menulis, dan menyelesaikan pekerjaan. Di sisi lain, makin banyaknya orang yang menggantungkan jawaban pada AI menuntut kecakapan baru: literasi digital yang matang. Pengguna perlu mampu memilah informasi, mengecek kebenaran, dan tidak menerima begitu saja setiap jawaban yang dihasilkan mesin.

AI generatif masih bisa keliru atau menghasilkan informasi yang kurang akurat, sebuah fenomena yang kerap disebut halusinasi. Karena itu, kebiasaan verifikasi silang tetap penting. Jangan ragu membandingkan jawaban AI dengan sumber terpercaya lainnya, terutama untuk hal-hal yang bersifat krusial seperti kesehatan, keuangan, atau keputusan penting.

Sikap Bijak Menghadapi Era AI

Pada akhirnya, kunci menghadapi era AI bukanlah menghindarinya, melainkan menggunakannya secara cerdas. Gunakan AI sebagai asisten yang mempercepat proses, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Dengan sikap kritis, rasa ingin tahu yang terjaga, dan kebiasaan verifikasi yang baik, kehadiran AI justru bisa memperkaya cara kita belajar dan bekerja.

Pertumbuhan pengguna yang begitu cepat juga mendorong platform-platform AI berlomba menghadirkan fitur baru, mulai dari dukungan berbagai bahasa hingga asisten suara yang semakin natural. Di Indonesia sendiri, adopsi AI terus meningkat seiring makin mudahnya akses dan makin terjangkaunya perangkat pintar. Hal ini membuka peluang besar bagi peningkatan produktivitas, namun sekaligus menuntut kesiapan masyarakat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.

Literasi digital pun tidak lagi cukup sekadar bisa mengoperasikan aplikasi. Masyarakat perlu memahami cara kerja AI, batas kemampuannya, serta risiko yang mungkin muncul, seperti penyebaran informasi keliru atau ketergantungan berlebihan pada mesin. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci agar manfaat AI bisa dirasakan secara merata tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis kita.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dalam menyusun edukasi literasi AI menjadi semakin penting. Dengan pemahaman yang merata, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pengguna yang cerdas dan kritis terhadap setiap perkembangan baru.

Sumber: Whizi Research, OpenAI DevDay 2026, Engadget

Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.