Kehadiran kecerdasan buatan atau AI membawa perubahan besar di banyak bidang, tidak terkecuali dunia pendidikan. Namun, ada satu tantangan yang mulai terlihat jelas: kesenjangan penguasaan AI antara guru dan siswa. Tak jarang, justru para siswa yang lebih cepat akrab dengan teknologi ini, sementara sebagian guru masih beradaptasi.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, karena guru memiliki peran kunci dalam mengarahkan penggunaan AI agar tetap positif dan bertanggung jawab di ruang belajar.

Kenapa Kesenjangan Ini Terjadi?

Siswa umumnya tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan teknologi sejak dini, sehingga adopsi alat digital terasa lebih alami bagi mereka. Di sisi lain, guru menghadapi tantangan ganda: menguasai teknologi baru sekaligus memikirkan cara terbaik mengintegrasikannya ke dalam metode pengajaran. Belum lagi beban administratif yang sering kali menyita waktu.

Tanpa pendampingan yang tepat, kesenjangan ini bisa melebar. Guru yang belum percaya diri memakai AI berisiko tertinggal dari muridnya, padahal justru gurulah yang seharusnya menjadi pemandu dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.

Program untuk Menjembatani Kesenjangan

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejumlah inisiatif mulai digulirkan. Salah satunya adalah program pelatihan yang menyasar para guru di jenjang SMA, SMK, dan MA. Program ini mencakup pelatihan pemanfaatan AI, pembuatan konten digital, hingga pengembangan metode pembelajaran. Sejak digelar pertengahan tahun ini, program tersebut tercatat telah menjangkau lebih dari 3.800 guru.

Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan peningkatan literasi AI di kalangan pendidik memang sangat besar. Semakin banyak guru yang terampil, semakin besar pula peluang pembelajaran berbasis teknologi yang sehat dan terarah.

Peran Guru Tak Tergantikan

Penting untuk diingat, kehadiran AI tidak akan menggantikan peran guru. Teknologi hanyalah alat; yang membimbing nilai, etika, dan cara berpikir kritis tetaplah manusia. Justru di sinilah guru yang melek AI memiliki keunggulan: mereka bisa mengajarkan murid untuk memakai teknologi secara bertanggung jawab, bukan sekadar mengandalkannya tanpa berpikir.

Literasi digital bagi pendidik pada akhirnya bukan sekadar soal bisa memakai alat, melainkan soal kemampuan menanamkan pemahaman yang utuh tentang manfaat dan batasannya.

Menyongsong Pendidikan yang Lebih Adaptif

Menjembatani kesenjangan penguasaan AI antara guru dan siswa adalah langkah penting menuju pendidikan yang lebih adaptif di era digital. Dengan guru yang percaya diri dan siswa yang terarah, pemanfaatan AI bisa menjadi katalis untuk pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan pihak swasta akan sangat menentukan keberhasilan upaya ini. Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan soal seberapa cepat mengadopsi teknologi, melainkan seberapa bijak kita memanfaatkannya untuk membentuk generasi yang lebih cerdas dan kritis.

Sumber: Kontan.co.id

Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.