Seniman Muda Pilih Berkolaborasi dengan AI, Bukan Melawannya

Dalam diskusi panel pameran bertajuk 'Art for Peace and a Better Future: Collaboration', dua seniman muda, Koelo Mariam dan La Ode Umar, membagikan pandangan bahwa kecerdasan buatan bukanlah musuh kreativitas.

Baca juga: GPT-6 Resmi Meluncur, ChatGPT Makin Cepat dan Interaktif

Baca juga: Fenomena Curhat ke AI Makin Marak, Pakar Ingatkan Teknologi Bukan Pengganti Manusia

Diperbarui 14 Oktober 2026. Penggunaan AI di dunia kreatif makin luas; kini banyak kreator yang memanfaatkan prompt ChatGPT dan AI untuk mempercepat pekerjaan. Baca juga: cara membuat prompt ChatGPT yang efektif dan cara menggunakan AI untuk menjawab email.

Baca juga: Jejak Air di Balik AI: Berapa Banyak Air yang Dikonsumsi Data Center?

Mereka menekankan bahwa kolaborasi antara manusia dan AI justru membuka ruang eksplorasi yang lebih luas, dari eksperimen visual hingga penciptaan karya yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Pandangan ini sejalan dengan tren seni kontemporer yang semakin terbuka terhadap teknologi, dengan tetap menempatkan manusia sebagai pengarah visi dan makna di balik setiap karya.

Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.