
Persaingan di pasar cloud berbasis kecerdasan buatan (AI) makin sengit. Firma riset Bernstein menobatkan Google Cloud sebagai platform AI cloud terdepan setelah membukukan pertumbuhan pendapatan 63 persen year-over-year pada kuartal pertama 2026. Angka ini melampaui Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure.
Baca juga: Google Siapkan Gemini 4 dan Live Avatar, Asisten AI Makin Mirip Manusia
Baca juga: Konten Deepfake Naik 550 Persen, Kemkomdigi Dorong Platform Sediakan Fitur Cek Konten AI
Baca juga: Google Rilis Gemini Omni 1.1 Flash: Video AI Kini Bisa 4K dan Lebih Panjang
Baca juga: Google Rilis Gemini 3.8 Flash: Model Flash Keempat dalam Empat Bulan, Apa Artinya buat Pengguna?
Baca juga: Meta Mulai Produksi Chip AI Generasi Baru September 2026, Persaingan Makin Panas
Pendorong Utama: Model Gemini
Pertumbuhan Google Cloud didorong oleh permintaan kuat terhadap model Gemini, layanan AI, serta beban kerja cloud enterprise. Bisnis ini juga mencatat kenaikan pendapatan inkremental terbesar di antara seluruh penyedia cloud besar.
Margin operasi Google Cloud melebar ke sekitar 33 persen, menandai perbaikan signifikan dari posisi sebelumnya yang kerap dianggap kurang menguntungkan dibanding AWS. Integrasi Gemini ke produk seperti Workspace dan Cloud Platform turut mempercepat adopsi di kalangan perusahaan, dari analitik data hingga otomasi proses.
Bagaimana Posisi Kompetitor?
- Microsoft Azure: tumbuh 40 persen dengan pendapatan AI tahunan menembus 37 miliar dolar AS, didorong layanan Copilot, GitHub, dan Azure AI Services.
- Amazon Web Services: tumbuh 28 persen dengan backlog kontrak membengkak jadi 364 miliar dolar AS, plus adopsi chip Trainium buatan Amazon yang mulai naik.
- Oracle Cloud: tumbuh paling agresif, 93 persen, dengan RPO (kontrak yang sudah ditandatangani) melonjak jadi 638 miliar dolar AS, berkat permintaan infrastruktur AI untuk training model.
Investasi Infrastruktur Melonjak
Laporan Bernstein memproyeksikan pengeluaran gabungan seluruh hyperscaler bakal menembus 620 miliar dolar AS pada 2026. Angka itu mencakup pembangunan pusat data baru, pengadaan chip GPU, hingga infrastruktur tenaga listrik. Meta, misalnya, berkomitmen menggelontorkan hingga 600 miliar dolar AS di AS hingga 2028, sementara Google disebut menyewa kapasitas dari SpaceX senilai 920 juta dolar AS per bulan.
Bottleneck Bergeser ke Listrik
Temuan paling menariknya: hambatan infrastruktur AI sudah bergeser dari ketersediaan GPU ke kapasitas pusat data yang memiliki pasokan listrik memadai. Artinya, punya chip dalam jumlah besar saja tidak lagi cukup. Perusahaan juga butuh pusat data dengan listrik yang cukup, sistem pendingin efisien, dan konektivitas jaringan berkecepatan tinggi.
Persaingan kini bukan lagi soal siapa punya chip terbanyak, melainkan siapa bisa membangun pusat data paling cepat. Bagi pengguna biasa, persaingan ketat ini bisa jadi kabar baik. Harga layanan AI berpotensi turun, sementara kapasitas dan kualitas layanan meningkat. Ujungnya, kita bakal menikmati produk AI yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih canggih.
Sumber: Industry.co.id
Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal literasi digital & AI Indonesia.